Berapa Uang Saku Anak Sekolah yang Pantas?

Uang kertas rupiah
Salah satu kewajiban orangtua modern adalah menyekolahkan anak di sekolah formal. Sudah menjadi kebutuhan anak bahwa orangtua sebaiknya memberikan uang saku yang layak bagi anak saat berangkat ke sekolah. Orangtua seringkali bingung berapa uang saku yang pas untuk anak sekolah. Jika anda salah satu orangtua yang ragu tentang berapa uang saku anak yang layak, berikut ini ada beberapa hal yang sebaiknya anda pertimbangkan.

Penghasilan
Bagi anda yang memiliki penghasilan yang tinggi, maka menentukan seberapa besar uang saku anak bukan masalah besar. Idealnya memberikan uang saku pada anak tidak menyebabkan orangtua mengalahkan kebutuhan dasar. Jika anda merasa penghasilan keluarga pas-pasan, maka perhitungan uang saku anak sebaiknya berdasarkan prosentase dari sisa kebutuhan dasar.

Usia Anak
Pada dasarnya semakin besar usia anak maka akan semakin besar pula kebutuhannya. Demikian pula dengan level pendidikan anak, anak SMP memiliki kebutuhan yang lebih besar dari anak SD. Selain itu, pada umumnya semakin dewasa usia anak maka semakin bijak ia dapat memanfaatkan uang yang dimilikinya. Anak TK tidak perlu diberi uang jajan, cukup dipenuhi kebutuhannya akan makan/snack saat berada di sekolah.

Nilai Tukar Uang
Tidak logis membandingkan nilai uang seribu rupiah pada saat ini dengan dengan nilai uang yang sama lima tahun  yang lalu. Jika anda memberi uang saku agar anak jajan di sekolah, pertimbangkan kuantitas dan kualitas jajanan yang dapat dibeli dengan uang saku tersebut. Jika anda menyarankan anak untuk jajan 2 potong kue di sekolah, maka anda seharusnya mempertimbangkan kualitas kue yang dapat dibeli dengan uang jajan anak.

 Penggunaan
Uang saku tidak identik dengan uang jajan. Banyak orangtua yang membekali anak dengan bekal makan siang atau snack supaya anak tidak jajan dengan alasan tertentu (misalnya lebih terjamin gizi dan higienitasnya). Dalam hal ini orangtua memberikan uang saku untuk keperluan selain dari jajan. Anda sebaiknya memperkirakan kebutuhan anak akan uang saku berdasarkan kebutuhan, misalnya untuk jajan, transport, menabung, membeli alat tulis, simpanan koperasi, sumbangan/infaq, atau kebutuhan lain.

 Kepercayaan
Biasanya uang jajan diberikan secara harian, sehingga anak boleh menghabiskan uang jajannya. Ada juga sebagian orangtua yang memberikan kepercayaan penuh pada anak untuk mengelola uang jajannya sehingga uang jajan tidak diberikan setiap hari misalnya tiga kali seminggu, dua kali seminggu atau satu kali seminggu. Tentu saja untuk kasus kedua ini, anak harus memiliki kemampuan mengelola uang dengan baik sehingga layak untuk mendapatkan kepercayaan mengelola uang jajan sendiri. Anak yang terampil mengelola uang jajan seringkali dapat menabung secara mandiri dengan baik, sehingga orangtua tidak ragu memberikan uang jajan dalam jumlah yang lebih, karena uang tersebut tidak akan dihabiskan oleh sang anak.

 Perbandingan
Walaupun tidak selalu bijak untuk membandingkan uang saku anak anda dengan uang saku teman-temannya, mengetahui uang saku anak-anak lain yang sepantaran dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan anda untuk memberikan uang saku anak.